Art: 1 New Museum dan Art Space

Untuk penduduk Jakarta yang ingin refreshing di luar rumah tapi bosan pergi ke mall, pergi ke museum dan galeri seni bisa jadi alternatif yang menyenangkan. Ada beberapa museum dan galeri seni modern di Jakarta yang menarik untuk dikunjungi, salah satunya Art: 1 New Museum dan Art Space. Awalnya saya tertarik mengunjungi museum ini karena postingan seorang teman di instagram, dan cukup surprised, karena setelah puluhan tahun tinggal di dekat Kemayoran, saya baru tahu kalau di tempat ini ada museum dan galeri seni modern. Lokasinya berada di tengah perumahan yang membuat museum ini jauh dari bisingnya jalan raya, jadi para pengunjung bisa dengan santai menikmati karya seni tanpa terganggu suara berisik dari luar.

#1 : Pengalaman di Art:1 New Museum & Art Space

Jika anda sudah pernah mengunjungi Museum Macan yang ada di Kebon Jeruk, isi dalam museum ini tidak jauh berbeda dengan Museum Macan, bahkan museum ini sudah berdiri jauh lebih lama. Museum ini berawal dari Galeri Seni Mon Decor, pioneer galeri seni di Jakarta yang didirikan oleh Martha Gunawan pada tahun 1983. Galeri seni ini memiliki beberapa cabang di Jakarta, diantaranya adalah di Plaza Senayan, Wisma Mulia, dan Grand Indonesia. Pada tahun 2011, galeri ini berganti konsep menjadi Art: 1 New Museum & Artspace. Museum ini dibangun dengan desain arsitektur modern dan desain interior yang minimalis dengan warna-warna monokrom. Desain interior tersebut membuat setiap karya lukisan, patung, instalasi, fotografi dan video art yang ditampilkan dalam museum ini menjadi lebih menonjol.

Tempat ini terbagi menjadi dua area yang dihubungkan oleh koridor berdekorasi unik di setiap lantainya, yaitu Art:1 New Museum dan Art Space Gallery. Di area Art: 1 New Museum, pengunjung bisa menikmati karya-karya dari para seniman maestro yang namanya sudah tidak asing di telinga anda, seperti Popo Iskandar, Heri Dono, Antonio Blanco, Affandi, Made Winata, Anusapati, dan Widayat. Karya seni yang berada di area ini tidak dijual, karena merupakan koleksi pribadi dari pemilik museum. Sedangkan Art Space adalah tempat untuk karya seni dari para seniman muda yang dapat dibeli oleh pengunjung. Tidak hanya menampilkan karya seni, tempat ini juga menyediakan ruang konsultasi untuk restorasi dan konservasi lukisan yang dikelola oleh putri dari Martha Gunawan.

Semua kaya seni di tempat ini hanya akan dipamerkan selama tiga bulan, lalu diganti dengan karya seni lain dengan konsep yang sangat berbeda, jadi sobat howie tidak akan bosan untuk mengunjungi tempat ini berkali-kali. Saat saya berkunjung ke tempat ini, Art Space sedang memamerkan lukisan dan instalasi seni dari para mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, sementara di lantai 2 sedang diadakan pameran seni tunggal dari seniman asal Bali yang karyanya sudah pernah dipamerkan di dalam dan luar negeri seperti Taiwan dan Singapore,  Nyoman Erawan. Di pameran yang bertajuk “Shadow Dance” ini, saya paling mengagumi lukisan di berukuran 200 x 150 cm berjudul “Shadow Dance #7” dan intalasi yang berjudul “Cosmic Dance”. Instalasi seni ini berukuran 600 x 600 x 600 cm dengan menggunakan media campuran.

Instalasi “Cosmic Dance” karya Nyoman Erawan

Berbeda dengan Museum Macan, pengunjung di tempat ini tidak terlalu padat sehingga lebih nyaman untuk dikunjungi oleh sobat howie yang tidak terlalu menyukai keramaian. Namun tentunya tempat ini tidak kalah instagramable dari art gallery lain di Jakarta (mungkin karena alasan itulah museum ini dijadikan lokasi shooting video clip lagu Bahagia dari GAC). Pengunjung diizinkan berfoto asalkan tidak menggunakan kamera DSLR dan mirrorless. Alhasil, saat itu saya harus puas mengambil foto hanya dengan kamera hp saja. Dan tidak boleh menggunakan flash, karena sinarnya dapat merusak karya seni. Spot foto favorit saya: di samping instalasi “The Beetle Sphere” karya Ichwan Noor yang berada di lantai dasar (instalasi berupa replika mobil VW Beetle yang dibentuk menjadi bola raksasa ini pasti juga pernah sobat howie lihat di mall Kota Kasablanka) dan di depan bangunan museum dengan latar instalasi “Titik Jeda” karya Sunaryo yang berbentuk scaffolding berwarna merah dengan beberapa patung pekerja bangunan (yap, instalasi yang menjulang tinggi ini terletak di luar museum).

The Bettle Sphere” karya Ichwan Noor from tripadvisor.co

 

"Titik Jeda" oleh Sunaryo from jakartabytrain.com
“Titik Jeda” oleh Sunaryo from jakartabytrain.com

Museum tiga lantai ini juga dilengkapi dengan lift dan cafetaria yang menyediakan minuman, snack, dan beberapa buku di lantai dasar. Harga tiket masuk museum sudah termasuk welcome drink yang bisa diambil sendiri di cafetaria sebelum atau sesudah anda berkeliling museum. Harga tiketnya memang relatif lebih mahal dari museum lain di Jakarta, tapi saya pastikan sobat howie tidak akan menyesal setelah membelinya. Jangan khawatir untuk urusan parkir, karena tersedia tempat parkir di basement yang cukup luas.

Bapak-bapak yang duduk di sebelah kiri ini sangat ramah dan komunikatif

Beberapa hal yang saya sukai dari museum ini, selain menampilkan karya seni yang kualitasnya tidak perlu diragukan lagi, tempatnya yang tidak terlalu ramai dan nyaman untuk dikunjungi, dan semua staff di tempat ini yang ramah dan sangat membantu pengunjung. Mulai dari dua mbak-mbak yang bertugas sebagai receptionist dan guide, sampai seorang bapak yang menjaga area Art Space (duduk di sebelah kiri dalam foto diatas). Bapak diatas juga yang memberi saya beberapa informasi tambahan mengenai tempat ini. Pokoknya, sobat howie ga akan nyesel meluangkan waktu untuk mengujungi museum ini!

#2 : Informasi Art:1 New Museum & Art Space

2.1 : Lokasi 

Jl. Rajawali Selatan Raya No.3, Kemayoran, Jakarta Pusat

2.2 : Harga tiket

Rp. 35.000,- (hanya area Art Space)

Rp. 75.000,- (area Art New Museum + Art Space)

2.3 : Waktu Operasional

Senin : Tutup

Selasa – Sabtu : Pukul 10.00-18.00 WIB

Minggu : Pukul 10.00-16.00 WIB

 

*) Credit: cover foto diambil dari infojakarta.net

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.